pur07 vet

fasciolosis

In Uncategorized on 10 Desember 2010 at 10:01 am

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Hepar merupakan kelenjar yang terbesar dalam tubuh vetebrata. Hepar pada vetebrata terletak pada bagian atas cavum abdominis, di bawah diafragma, di kedua sisi kuadran atas, yang sebagian besar terdapat pada sebelah kanan. Beratnya 1200 – 1600 gram. Permukaan atas terletak bersentuhan di bawah diafragma, permukaan bawah terletak bersentuhan di atas organ-organ abdomen. Hepar difiksasi secara erat oleh tekanan intraabdominal dan dibungkus oleh peritoneum kecuali di daerah posterior-superior yang berdekatan dengan v.cava inferior dan mengadakan kontak langsung dengan diafragma. Bagian yang tidak diliputi oleh peritoneum disebut bare area.Terdapat refleksi peritoneum dari dinding abdomen anterior, diafragma dan organ-organ abdomen ke hepar berupa ligament
Hati merupakan organ homeostasis yang memainkan peranan penting dalam proses metabolisme dalam manusia dan hewan. Hati mempunyai berbagai fungsi termasuk menyimpan glikogen, mensintesis protein plasma, dan menetralisir racun. Ia menghasilkan empedu yang penting bagi metabolisme. Ia melaksana dan mengawal berbagai fungsi biokimia jumlah besar yang memerlukan tisu khas. Istilah perubatan yang berkaitan dengan hati sering kali bermula dari perkataan Greek bagi hati iaitu hepar, menjadi hepato- atau hepatic. Hati berwarna perang kemerahan dan terletak di bawah diafragma iaitu di dalam rongga abdomen. Hati menerima makanan terlarut dalam darah apabila makanan ini tercerna dan diserap di usus. Namun, kerusakan hati dapat berpengaruh terhadap sintesis makanan dan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan.
Fasciolosis adalah penyakit cacing penting yang disebabkan oleh dua trematoda Fasciola hepatica dan gigantica Fasciola.. Penyakit ini disebabkan oleh trematoda yang bersifat zoonosis. F. hepatica adalah ini menimbulkan banyak kekhawatiran, karena distribusi dari kedua inang definitif cacing sangat luas dan mencakup mamalia herbivora, termasuk manusia Siklus hidup termasuk siput air tawar sebagai hospes perantara parasit. Baru-baru ini, kerugian di seluruh dunia pada produktivitas ternak karena fasciolosis yang konservatif diperkirakan lebih dari US $ 3,2 miliar per tahunSelain itu, fasciolosis sekarang dikenal sebagai penyakit manusia muncul: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 2,4 juta orang terinfeksi dengan Fasciola, dan 180 juta orang berada pada risiko infeksi.
Cacing dewasa dari kedua jenis dilokalisasi dalam saluran empedu dari hati atau kandung empedu. Fasciola gigantica merupakan satu-satunya cacing trematoda di Indonesia yang menyebabkan infeksi fasciolosis pada hewan ruminansia (EDNEY danMUCHLIS, 1962). Prevalensi penyakit ini pada sapi di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Jawa Barat dapat mencapai 90% (SUHARDONO, 1997) dan di Daerah Istimewa Yogyakarta kasus kejadiannya antara 40-90% (ESTUNINGSIH et al., 2004), sedangkan prevalensi penyakit ini pada domba belum diketahui. Penyakit ini sangat merugikan karena dapat menyebabkan penurunan bobot hidup, penurunan produksi, pengafkiran organ tubuh terutama hati sehingga hati terbuang percuma, bahkan dapat menyebabkan kematian. Di Indonesia, secara ekonomi kerugiannya dapat mencapai Rp. 513,6 milyar/tahun (ANONYMOUS, 1990). Dari berbagai hewan ruminansia yang ada di Indonesia dilaporkan bahwa domba ekor tipis merupakan domba yang resisten terhadap infeksi fasciolosis dan daya resistensi tersebut dapat diturunkan secara genetik (WIEDOSARI dan COPEMAN, 1990; ROBERTS et al., 1997a,c).

BAB II
HATI
FISIOLOGI HATI
Hati merupakan pusat dari metabolisme seluruh tubuh, merupakan sumber energi tubuh sebanyak 20% serta menggunakan 20 – 25% oksigen darah. Ada beberapa fung hati yaitu :
1. Fungsi hati sebagai metabolisme karbohidrat
Pembentukan, perubahan dan pemecahan KH, lemak dan protein saling berkaitan 1 sama lain.Hati mengubah pentosa dan heksosa yang diserap dari usus halus menjadi glikogen, mekanisme ini disebut glikogenesis. Glikogen lalu ditimbun di dalam hati kemudian hati akan memecahkan glikogen menjadi glukosa. Proses pemecahan glikogen mjd glukosa disebut glikogenelisis.Karena proses-proses ini, hati merupakan sumber utama glukosa dalam tubuh, selanjutnya hati mengubah glukosa melalui heksosa monophosphat shunt dan terbentuklah pentosa. Pembentukan pentosa mempunyai beberapa tujuan: Menghasilkan energi, biosintesis dari nukleotida, nucleic acid dan ATP, dan membentuk/ biosintesis senyawa 3 karbon (3C)yaitu piruvic acid (asam piruvat diperlukan dalam siklus krebs).
2. Fungsi hati sebagai metabolisme lemak
Hati tidak hanya membentuk/ mensintesis lemak tapi sekaligus mengadakan katabolisis asam lemak Asam lemak dipecah menjadi beberapa komponen :
1. Senyawa 4 karbon – KETON BODIES
2. Senyawa 2 karbon – ACTIVE ACETATE (dipecah menjadi asam lemak dan gliserol)
3. Pembentukan cholesterol
4. Pembentukan dan pemecahan fosfolipid
Hati merupakan pembentukan utama, sintesis, esterifikasi dan ekskresi kholesterol .Dimana serum Cholesterol menjadi standar pemeriksaan metabolisme lipid
3. Fungsi hati sebagai metabolisme protein
Hati mensintesis banyak macam protein dari asam amino. dengan proses deaminasi, hati juga mensintesis gula dari asam lemak dan asam amino.Dengan proses transaminasi, hati memproduksi asam amino dari bahan-bahan non nitrogen. Hati merupakan satu-satunya organ yg membentuk plasma albumin dan ∂ – globulin dan organ utama bagi produksi urea.Urea merupakan produk akhir metabolisme protein.∂ – globulin selain dibentuk di dalam hati, juga dibentuk di limpa dan sumsum tulang β – globulin hanya dibentuk di dalam hati.albumin mengandung ± 584 asam amino dengan BM 66.000
4. Fungsi hati sehubungan dengan pembekuan darah
Hati merupakan organ penting bagi sintesis protein-protein yang berkaitan dengan koagulasi darah, misalnya: membentuk fibrinogen, protrombin, faktor V, VII, IX, X. Benda asing menusuk kena pembuluh darah – yang beraksi adalah faktor ekstrinsi, bila ada hubungan dengan katup jantung – yang beraksi adalah faktor intrinsik.Fibrin harus isomer biar kuat pembekuannya dan ditambah dengan faktor XIII, sedangakan Vit K dibutuhkan untuk pembentukan protrombin dan beberapa faktor koagulasi.
5. Fungsi hati sebagai metabolisme vitamin
Semua vitamin disimpan di dalam hati khususnya vitamin A, D, E, K
6. Fungsi hati sebagai detoksikasi
Hati adalah pusat detoksikasi tubuh, Proses detoksikasi terjadi pada proses oksidasi, reduksi, metilasi, esterifikasi dan konjugasi terhadap berbagai macam bahan seperti zat racun, obat over dosis.
7. Fungsi hati sebagai fagositosis dan imunitas
Sel kupfer merupakan saringan penting bakteri, pigmen dan berbagai bahan melalui proses fagositosis. Selain itu sel kupfer juga ikut memproduksi ∂ – globulin sebagai imun livers mechanism.
8. Fungsi hemodinamik
Hati menerima ± 25% dari cardiac output, aliran darah hati yang normal ± 1500 cc/ menit atau 1000 – 1800 cc/ menit. Darah yang mengalir di dalam a.hepatica ± 25% dan di dalam v.porta 75% dari seluruh aliran darah ke hati. Aliran darah ke hepar dipengaruhi oleh faktor mekanis, pengaruh persarafan dan hormonal, aliran ini berubah cepat pada waktu tidak mendukung, terik matahari, shock. Hepar merupakan organ penting untuk mempertahankan aliran darah.

BAB III
PENYAKIT HATI OLEH FASCIOLA
A. FASCIOLA
Genus cacing fasciola ada 2 jenis yang sering menginfeksi yaitu fasciola hepatica dan fasciola gigantica. Fasciola hepatica merupakan salah satu spesies cacing yang merupakan parasit dalam tubuh manusia. Fasciola tergolong dalam kelas TREMATODA, filum PLATYHELMINTES. Hospes cacing ini adalah kambing dan sapi, dan kadang-kadang parasit ini ditemukan pada manusia. Fasciola hepatica merupakan penyakit fascioliasis. Fascioliasis banyak ditemukan di negara-negara Amerika Latin dan negara-negara sekitar Laut Tengah.

B. FASCIOLASIS
Fasciolosis adalah penyakit cacing penting yang disebabkan oleh dua trematoda Fasciola hepatica dan gigantica Fasciola.. Penyakit ini disebabkan oleh trematoda yang bersifat zoonosis. F. hepatica adalah ini menimbulkan banyak kekhawatiran, karena distribusi dari kedua inang definitif cacing sangat luas dan mencakup mamalia herbivora, termasuk manusia Siklus hidup termasuk siput air tawar sebagai hospes perantara parasit. Baru-baru ini, kerugian di seluruh dunia pada produktivitas ternak karena fasciolosis yang konservatif diperkirakan lebih dari US $ 3,2 miliar per tahun. Selain itu, fasciolosis sekarang dikenal sebagai penyakit manusia muncul: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 2,4 juta orang terinfeksi dengan Fasciola, dan 180 juta orang berada pada risiko infeksi.

Cacing dewasa dari kedua jenis dilokalisasi dalam saluran empedu dari hati atau kandung empedu. Fasciola gigantica merupakan satu-satunya cacing trematoda di Indonesia yang menyebabkan infeksi fasciolosis pada hewan ruminansia (EDNEY danMUCHLIS, 1962). Prevalensi penyakit ini pada sapi di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Jawa Barat dapat mencapai 90% (SUHARDONO, 1997) dan di Daerah Istimewa Yogyakarta kasus kejadiannya antara 40-90% (ESTUNINGSIH et al., 2004), sedangkan prevalensi penyakit ini pada domba belum diketahui. Penyakit ini sangat merugikan karena dapat menyebabkan penurunan bobot hidup, penurunan produksi, pengafkiran organ tubuh terutama hati sehingga hati terbuang percuma, bahkan dapat menyebabkan kematian. Di Indonesia, secara ekonomi kerugiannya dapat mencapai Rp. 513,6 milyar/tahun (ANONYMOUS, 1990). Dari berbagai hewan ruminansia yang ada di Indonesia dilaporkan bahwa domba ekor tipis merupakan domba yang resisten terhadap infeksi fasciolosis dan daya resistensi tersebut dapat diturunkan secara genetik (WIEDOSARI dan COPEMAN, 1990; ROBERTS et al., 1997a,c).
B.1 Akibat Infeksi F. Gigantica
Fasciola gigantica adalah parasit yang cukup potensial penyebab fascioliasis atau distomatosis. Di Indonesia fascioliasis merupakan salah satu penyakit ternak yang telah lama dikenal dan tersebar secara luas. Keadaan alam Indonesia dengan curah hujan dan kelembaban yang tinggi, dan ditunjang pula oleh sifatnya yang hemaprodit yakni berkelamin jantan dan betina akan mempercepat perkembangbiakan cacing hati tersebut. Cacing ini banyak menyerang hewan ruminansia yang biasanya memakan rumput yang tercemar metacercaria, tetapi dapat juga menyerang manusia. Cacing ini termasuk cacing daun yang besar dengan ukuran 30 mm panjang dan 13 mm lebar (Muhammed, 2008).
Fasciola gigantica bentuknya pipih seperti daun dan habitat utamanya di hati maka dikenal dengan nama cacing hati. Ada tiga cara larva infektif cacing hati setelah masuk ke dalam tubuh sampai ke organ hati hewan yang terinfeksi. Pertama ialah ikut bersama aliran darah, kemudian menembus kapiler darah, terus ke vena porta dan akhirya sampai ke hati. Kedua, dari lambung (abomasum) menembus mucosa usus (duodenum), ke saluran empedu dan akhirnya sampai ke parenkhim hati. Ketiga, yang umum terjadi adalah setelah menembus usus menuju peritonium, lalu menembus kapsula hati yang akhirya sampai ke hati (Arifin, 2006).
Tahap perkembangan larva Fasciola gigantika
Cacing dewasa hidup dalam saluran empedu hospes definitif (terutama ruminansia kadang juga orang). Cacing bertelur dan keluar melalui saluran empedu dan keluar melalui feses. Telur berkembang membentuk meracidium dalam waktu 9-10 hari pada suhu optimum. Meracidium mencari hospes intermedier siput Lymnea rubiginosa dan berkembang menjadi cercaria. Cercaria keluar dari siput dan menempel pada tanaman air/rumput/sayuran. Cercaria melepaskan ekornya memmbetuk metacercaria. Bila rumput/tanaman yang mengandung metacercaria dimakan oleh ternak/orang, maka cacing akan menginfeksi hospes definitif dan berkembang menjadi cacing dewasa (Arifin, 2006).
Cacing dalam saluran empedu menyebabkan peradangan sehingga merangsang terbentuknya jaringan fibrosa pada dinding saluran empedu. Penebalan saluran empedu menyebabkan cairan empedu mengalir tidak lancar. Disamping itu pengaruh cacing dalam hati menyebabkan kerusakan parenchym hati dan mengakibatkan sirosis hepatis. Hambatan cairan empedu keluar dari saluran empedu menyebabkan ichterus. Bila penyakit bertambah parah akan menyebabkan tidak berfungsinya hati (Mohammed, 2008).

Cacing memang memerlukan kondisi lingkungan yang basah, artinya cacing tersebut bisa tumbuh dan berkembang biak dengan baik bila tempat hidupnya berada pada kondisi yang basah atau lembab. Pada kondisi lingkungan yang basah atau lembab, perlu juga diwaspadai kehadiran siput air tawar yang menjadi inang perantara cacing sebelum masuk ke tubuh ternak (Arifin, 2006).

Manifestasi klinik
Manifestasi
klinik Fasioliasis tergantung dari jumlah metaserkaria yang termakan oleh penderita. Dalam jumlah besar metaserkaria menyebabkan kerusakan hati, obstruksi saluran empedu, kerusakan jaringan hati disertai fibrosis dan anemia. Frekuensi invasi metaserkaria sangat menentukan beratnya Fasioliasis. Kerusakan saluran empedu oleh migrasi metaserkaria menghambat migrasi cacing hati muda selanjutnya.Cacing ini merupakan entoparasit yang melekat pada dinding duktus biliferus atau pada epithelium intestinum atau pada endothelium venae dengan alat penghisapnya. Makanan diperoleh dari jaringan-jaringan, sekresi dan sari-sari makanan dalam intestinum hospes dalam bentuk cair, lendir ataudarah. Di dalam tubuh, makanan dimetabolisir dengan cairan limfe, kemudian sisa-sisa metabolisme tersebut dikeluarkan melalui selenosit. Perbanyakan cacing ini melalui auto-fertilisasi yang berlangsung pada Trematoda bersifat entoparasit, namun ada juga yang secara fertilisasi silang melalui canalis laurer (Mohammed, 2008). Suhu yang diperlukan mirasidium untuk dapat hidup adalah di atas 5-6 °C dengan suhu optimal 15-24 °C. Mirasidium harus masuk ke dalam tubuh siput dalam waktu 24-30 jam, bila tidak maka akan mati. Kemudian, telur dari jenis Fasciola gigantica menetas dalam waktu 17 hari, berkembang dalam tubuh siput selama 75-175 hari, hal ini tergantung pada suhu lingkungannya (Levine, 1990).

Gejala klinis
Pada sapi fascioliasis sub akut kurang memperhatikan gejala- gejala sama sekali. Pada waktu hewan tersebut diperkejakan disawahan atau ditransportasikan yang melelahkan dapat mengalami kematian mendadak. Gambaran klinis pada hewan muda mirip dengan yang dialami oleh domba.
Fasciolosis akut mungkin juga dialami oleh sapi- sapi impor yang diwilayah asalnya tidak terdapat fasciola. Kematian juga dipercepat bila selain invasi cacing hewan juga terinfeksi oleh agen noksius lain, misalnya penyakit surra, anaplasma, dan pirolasma. Fascioliasis kronik banyak dijumpai pada sapi-sapi yang dipelihara dengan pakan ternak segar yang dipetik dari daerah basah. Batang padi dari daerah basah sampai ketinggian dua pertiga batang terbukti banyak mengandung kista cacing. Gambaran berupah kekurusan, kelemahan umum, kachexia, anemia, sampai tidak mampu bangun banyak dijumpai didaerah lapangan. Oedema submandibula juga merupakan akibat anemia yang berat. Dalam pemeriksaan sistem sirkulasi sering ditemukan suara jantung mendebur. Tinja cair atau setengah cair berwarna hitam
Pada sapi, kerbau ,domba dan kambing yang menderita penyakit kronik. Penyakit lain misalnya defesiensi nutrisional (Cu atau Co ), paratisisme oleh cacing lain, atau anaplasma dan piroplasma, maupun penyakit paratuberkulosis, perlu dipertimbangkan. Temuan telur fasciola dan perubahan patologi hati, termasuk temuan cacing fasciola merupakan kunci untuk penentuan diagnosa fasioliasis.
Diagnosa Tepat
Penentuan diagnosa fascioliasis seekor hewan atau sekelompok hewan harus dibuktikan dengan ditemukannya telur Fasciola, yang dapat dilakukan dengan metode sedimentasi. Pada hewan yang berkelompok, diagnosa juga diperkuat dengan kerusakan hati salah satu hewan yang mati dengan melalui proses nekropsi. Diagnosa yang tepat pada hewan yang sudah terserang penyakit cacing, akan memberikan jalan untuk pengobatan yang tepat pula untuk ketepatan diagnosa.
Telur
fasciola Sangat mirip dengan paramfistomum. Untuk membedakanya, selain mengingat ukuran besarnya telur, telur fasciola lebih kecil dari pada paramfistomum, dinding telur fasciola lebih tipis sehingga mudah menyerap zat warna empedu, yodium, atau mutilen biru. Selain itu didalam paramfistomum biasanya lebih jelas sel–sel embrionalnya dari pada dalam telur fasciola.
Selanjutnya salah satu metoda untuk melakukan diagnosa penyakit Cacing Hati (Fasciolasis) pada sapi dan kerbau, misalnya, adalah dengan menggunakan antigen Fasciola.
Prognosa
Pada hewan yang mengalami fascioliasis akut, prognosa jelek artinya hewan dapat mati mendadak. Pada hewan yang mengalami fascioliasis kronis, prognosa dapat dapat disembukan karena hewan terinfeksi secara perlan-lahan
Pengobatan
Untuk pencegahan
Beberapa tehnik sederhana dalam melakukan kontrol terhadap infestasi cacing pada ternak sapi dapat dilakukan dengan cara mengatur pemberian pakan dan mengatur waktu pemotongan rumput, suatu hal yang tentunya tidak dapat dilakukan bila sapi dibiarkan mencari pakan sendiri di padang rumput (Mohammed, 2008).
Bila ternak tidak ada nafsu makan, maka periksalah dulu bagian mulut dan gigi. Periksa juga suhu (kalau tinggi, mungkin ada infeksi umum). Berikan antibiotika injeksi setiap hari selama 3 – 5 hari. “Bila bukan seperti gejala diatas setelah diperiksa, kemungkinan penyakitkronis. Gejala-gejala bila ternak itu cacingan antara lain: sapi kurus dan lemah, nafsu bisa kurang, kurang darah (anaemia), lendir berwarna pucat dan sering mencret.
Penggunaan obat anti
Keberhasilan pengobatan fascioliasis tergantung efektifitas obat terhadap stadia perkembangan cacing, pada fase migrasi, pada migrasi atau pada fase menetap dihati, dan sifat toksin dari obat harus rendah karena jaringan hati yang terlanjur mengalami kerusakan. Yang paling baik syatui obat mampu membunuh fasciola yang sedang migrasi dan cacing dewasa, serta tidak toksik pada jeringan, misalnya :
a. Hexacchlorethan, Aulotane,
Perchloroethan, fasciolin selain efektif terhadap cacing desawa juga efektif untuk Hemonchis dan Trichostrongylosis
b. Clioxanide
c. sangant efektif untuk Fasciolisis domba, dan membunuh cacing dewasa
umur 6 minggu atau lebih.
d. Niclofolan, Tordas, Dovenix. Obat yang mampu membunuh fascioliasis (bersifat flukicidal) dikemas sebagai garam N-methyl Glucaumine atau Meglumine 20%. Derivate Benzimedazol, terutama Albendazol, Triclabendazol dan Probendazol Febantel, memperoleh perhatian luas karena selain efektif terhadap cacingnematoda, senyawa tersebut juga efektif untuk membunuh cacing hati muda dan cacing dewasa.

B.2 Infeksi Akibat F. Hepatica
Fasciola hepatica, juga dikenal sebagai kebetulan hati biasa atau hati busuk domba, adalah parasit cacing pipih dari kelas Trematoda , filum Platyhelminthes yang menginfeksi hati dari berbagai mamalia , termasuk manusia. hepatica didistribusikan di seluruh dunia dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar pada domba dan sapi.
MORFOLOGI
Fasciola hepatica menjadi cacing dewas mempunyai bentuk pipih seperti daun, besarnya kira-kira 30 x 13 mm. pada bagian anterior berbentuk seperti kerucut dan pada puncak kerucut terdapat batil isap mulut yang besarnya kira-kira 1mm, sedangkan pada bagian dasar erucut terdapat batil isap perut yang besarnya kira-kira 1,6 mm. Saluran pencernaan panjang dan bercabang-cabang sampai ke ujung distal sekum. Testis dan kelenjar vitelin juga bercabng-cabang. Telur cacing ini berukuran 140 x 90 mikrondikeluarkan melalui saluran empedu hospes bersama dengan tinja dsari tubuh hospes dalam keadaan belum matang.
Fasciola gigantica mempunyai daur hidup yang sama dengan fasciola hepatica dan biasanya terdapat pada sapi dan ruminansia lain di asia, afrika dan daerah lain. Cacing ini jarang menginfeksi manusia. F. Gigantica tidak selebar f. Hepatica tetapi lebih panjang dengan ukurab 25 – 75 mm x 3 – 13 mm.
– Siklus hidup
• Di tubuh inang utama ternak , ikan , manusia Cacing dewasa hidup di hati bertelur di usus – ikut faeces
• buang air besar sembarangan di lingkungan
• telur bersama faeces terbuang ke air
• telur menetas jadi larva dengan cilia (rambut getar ) diseluruh permukaan tubuhnya membentuk larva Mirasidium yang kemudian berenang mencari siput Lymnea Mirasidium akan mati bila tidak masuk ke dalam tubuh siput air tawar (Lymnea truncatula)
• Mirasidium setelah berada di siput berubah menjadi Sporosis (menetap dalam tubuh siput selama 2 minggu).
• Larva larva itu punya kemampuan reproduksi secara asexual dengan cara Paedogenesis didalam tubuh siput sehinga terbentuk banyak larva ,
• larva sporosis melakukan paedogenesis menjadi beberapa redia
• larva Redia melakukan paedogenesis menjadi Serkaria
• Larva serkaria kemudian berekor menjadi metacercaria dan segera keluar dari siput berenang mencari tanaman yang ada di pinggir perairan misalnya rumput . Metaserkaria membungkus diri berupa kista yang dapat bertahan lama menempel pada rumput atau tumbuhan air sekitarnya
• Apabila rumput tersebut termakan oleh domba, maka kista dapat menembus dinding ususnya, kemudian masuk ke dalam hati, saluran empedu dan dewasa di sana untuk beberapa bulan. Cacing dewasa bertelur kembali dan siklus ini terulang lagi.

Distribusi Geografis
Fasciolosis terjadi di seluruh dunia baik pada Manusia dan hewan. Sementara fasciolosis hewan didistribusikan di negara-negara dengan tinggi dan produksi ternak domba, fasciolosis manusia terjadi, kecuali Eropa Barat, di negara-negara berkembang. Fasciolosis terjadi hanya di daerah di mana kondisi yang cocok untuk host intermediate ada.
Penularan
Hospes vertebratae memperoleh infeksi dengan jalan menelan metasarkaria bersama – sama tumbuhan air atau air minum. Di dalam usus manusia, parasit mengalami ekskistasi dan migrasi lewat dinding usus dan rongga badan menuju ke hati, dan mulai menghuni didalam saluran empedu. Untuk mencapai kedewasaan didalam hati atau kantung empedu tersebut diperlukan waktu dua bulan. Telur – telur melewati saluran empedu menuju usus dan keluar ketanah atau air. Seluruh daur hidup sampai lengkap memerlukan waktu lima bulan.

Phatogenesa
Derajat phatogenesa Fasciola hepatica pada manusia tergantung pada banyak faktor, terutama jumlah cacing yang terdapat dan organ yang terinfeksi. Luka – luka akibat mekanis dan toksik karakteristik. Parasit ini kadamg – kadang menginfeksi paru – paru, otak, atau organ lain. Gejala – gejala yang ditimbulkan adalah rasa sakit didaerah hati, sakit perut, diare, demam dan anemia.
Pada sapi dan domba proses paling penting adalah fibrosis hepatis dan peradangan kronis saluran empedu. Terjadi gangguan proses pertumbuhan, produksi susu dan berat badan menurun

Tanda-tanda klinis
Pada hewan
Tanda-tanda klinis fasciolosis selalu erat terkait dengan dosis infeksi (jumlah metaserkaria ditelan). Pada domba, sebagai host definitif paling umum, presentasi klinis dibagi menjadi 4 jenis:
Akut Tipe I Fasciolosis: dosis menular lebih dari 5000 metaserkaria ditelan. Domba tiba-tiba mati tanpa tanda-tanda klinis sebelumnya. Asites, perdarahan perut, ikterus, pucat membran, kelemahan dapat diamati pada domba.
Tipe II Fasciolosis akut: Dosis infeksi adalah 1000-5000 metaserkaria tertelan. Seperti di atas, domba mati tapi sebentar pucat menunjukkan, hilangnya kondisi dan ascites.

Subakut Fasciolosis: Dosis infeksi adalah 800-1000 metaserkaria tertelan. Sheep are lethargic, anemic and may die. Domba adalah lesu, anemia dan bisa mati. Berat badan adalah fitur dominan.
Fasciolosis kronis: Dosis infeksi adalah 200-800 metaserkaria tertelan. Tanpa gejala atau pengembangan secara bertahap dari rahang botol dan ascites (edema perut), kekurusan, penurunan berat badan.
Dalam darah, anemia, hipoalbuminemia, dan eosinofilia dapat diamati di semua jenis fasciolosis. Ketinggian aktivitas enzim hati, seperti glutamat dehidrogenase (GLDH), gamma-glutamil transferase (GGT), dan laktat dehidrogenase (LDH), yang terdeteksi di fasciolosis subakut atau kronis 12-15 minggu setelah menelan metaserkaria. Pengaruh Ekonomi dari fasciolosis pada domba terdiri dalam kematian mendadak hewan serta dalam pengurangan berat badan dan produksi wol. In goats and cattle, the clinical manifestation is similar to sheep. Pada kambing dan sapi, manifestasi klinis mirip dengan dombaBetis yang rentan terhadap penyakit, tetapi lebih dari 1000 metaserkaria biasanya diperlukan untuk menimbulkan fasciolosis klinis. Dalam hal ini penyakit mirip dengan domba dan ditandai oleh penurunan berat badan, anemia, hipoalbuminemia dan (setelah infeksi dengan 10.000 metaserkaria) kematian. Pentingnya fasciolosis ternak terdiri atas kerugian ekonomi yang disebabkan oleh kutukan hati pada kerugian pembantaian dan produksi terutama karena berat badan berkurang.
Pada ternak domba dan kadang-kadang, jaringan hati yang rusak dapat menjadi terinfeksi oleh bakteri Clostridium C. novyi tipe B. Bakteri akan melepaskan racun ke dalam aliran darah menghasilkan apa yang dikenal sebagai penyakit hitam. Tidak ada obat dan kematian mengikuti cepat. Seperti C. novyi adalah umum di lingkungan, penyakit hitam ditemukan dimanapun populasi cacing hati dan domba tumpang tindih.
Pada manusia
Perjalanan fasciolosis pada manusia memiliki 4 fase utama: Fase Inkubasi: dari menelan metaserkaria munculnya gejala pertama; jangka waktu: beberapa hari untuk 3 bulan, tergantung pada jumlah metaserkaria tertelan dan status kekebalan dari tuan rumah
Invasif atau fase akut: kebetulan migrasi ke saluran empedu Fase ini merupakan hasil dari kerusakan mekanis dari jaringan hati dan peritoneum dengan migrasi cacing menyebabkan remaja lokal dan atau reaksi toksik dan alergi umum.
Gejala utama tahap ini adalah: Demam: biasanya gejala pertama penyakit; 40-42 ° C , Sakit perut , Gangguan gastrointestinal: hilangnya nafsu makan, mual perut kembung, diare Urticaria Urtikaria , Gejala pernafasan (sangat jarang): batuk, dispnea, nyeri dada, hemoptysis , Hepatomegali dan splenomegali, Asites, Anemia, Penyakit kuning
fase laten: Fase ini dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau tahun. Proporsi mata pelajaran asimtomatik pada fase ini tidak diketahui Mereka sering ditemukan selama pemutaran keluarga setelah pasien didiagnosis.
Obstruktif kronis atau fase: Fase ini mungkin mengembangkan bulan atau tahun setelah infeksi awalcacing dewasa di dalam saluran empedu menyebabkan inflamasi dan hiperplasia epitelium. Yang pertama dihasilkan dan kolesistitis, dikombinasikan dengan tubuh besar cacing, cukup untuk menyebabkan obstruksi mekanis dari duktus bilierus Pada tahap ini, kolik empedu, nyeri epigastrium, intoleransi makanan berlemak, mual, sakit kuning, pruritus, nyeri perut kanan atas-kuadran, dll, adalah manifestasi klinis dibedakan dari kolangitis, kolesistitis dan cholelithiasis asal lainnya. Pembesaran hati dapat dikaitkan dengan pembesaran limpa atau ascites. Dalam kasus obstruksi, kandung empedu biasanya membesar dan pembengkakan dengan penebalan dinding. Adhesi berserat dari kandung empedu ke organ-organ yang berdekatan yang umum. Lithiasis dari saluran empedu atau kandung empedu yang sering dan batu-batu tersebut biasanya kecil dan beragam.
Resistensi terhadap infeksi
Mekanisme resistensi telah dipelajari oleh beberapa penulis dalam spesies binatang yang berbeda. Studi-studi ini dapat membantu untuk lebih memahami respon imun. Telah ditetapkan bahwa ternak memperoleh ketahanan terhadap tantangan infeksi dengan F. hepatica dan F. gigantica ketika mereka telah disensitisasi dengan paten-disingkat primer atau infeksi obat. Resistensi terhadap fasciolosis juga didokumentasikan pada tikus. Di sisi lain, domba dan kambing tidak tahan terhadap infeksi ulang dengan F. hepatica Namun, ada bukti bahwa keturunan domba dua, di tipis ekor domba indonesian tertentu dan Masa domba Merah, yang tahan terhadap F. Gigantica. Tidak ada laporan tentang perlawanan pada manusia yang tersedia.
Diagnosa
Melalui pemeriksaan feses, biopsi hati, USG, pemeriksaan anti bodi dan antigen juga bisa digunakan. Pada hewan, diagnosa intravital didasarkan terutama pada pemeriksaan feses dan metode imunologi. Namun, tanda-tanda klinis, biokimia dan hematologi profil, musim, kondisi iklim, situasi epidemiologi, dan pemeriksaan siput harus dipertimbangkan. Demikian pula dengan manusia, kotoran ujian tidak dapat diandalkan. Selain itu, telur kebetulan yang terdeteksi dalam tinja 8-12 minggu pasca-infeksi. Terlepas dari kenyataan bahwa, pemeriksaan tinja masih satu-satunya alat diagnostik yang digunakan di beberapa negara.. Sedangkan diagnosis coprological dari fasciolosis mungkin 8-12 minggu pasca-infeksi (WPI) F. hepatica-antibodi spesifik diakui dengan menggunakan ELISA atau Western blot sejak 2-4 minggu pasca-infeksi. Oleh karena itu, metode ini memberikan deteksi dini terhadap infeksi.
Pengobatan dan pencegahan
Pada manusia
Untuk kemanjuran tinggi dan keamanan, triclabendazole (Egaten) dalam dosis 10-12 mg / kg adalah obat pilihan dalam fasciolosis manusia. Tidak ada alternatif obat yang tersedia bagi manusia. Di sisi lain, nitazoxanide berhasil digunakan dalam pengobatan fasciolosis manusia di Meksiko. Bithionol merupakan obat pilihan yang digunakan untuk pengobatan F. Hepatica.
Pada hewan
Sejumlah obat telah digunakan di fasciolosis kontrol pada hewan Obat berbeda dalam keberhasilan mereka, cara kerja, harga, dan kelangsungan hidup. Fasciolicides (drugs against Fasciola spp.) fall into five main chemical groups: Halogenated phenols : bithionol (Bitin), hexachlorophene (Bilevon), nitroxynil (Trodax)
Fasciolicides (melawan Fasciola. Spp obat) jatuh ke dalam lima kelompok kimia utama:
Fenol halogenasi: bithionol (Bitin), hexachlorophene (Bilevon), nitroxynil (Trodax)
Salicylanilides: closantel (Flukiver, Supaverm), rafoxanide (Flukanide, Ranizole)
Benzimidazoles: triclabendazole (Fasinex), Albendazole (Vermitan, Valbazen), mebendazol (Telmin), luxabendazole (Fluxacur)
Sulphonamides: clorsulon (Ivomec Plus)
Phenoxyalkanes: diamphenetide (Coriban)
Triclabendazole (Fasinex) dianggap sebagai obat yang paling umum karena kemanjuran tinggi terhadap dewasa maupun remaja flukes Triclabendazole digunakan dalam mengendalikan fasciolosis ternak di banyak negara. Namun demikian, istilah veteriner penggunaan-panjang triclabendazole telah menyebabkan munculnya perlawanan terhadap F. Hepatica. Pada hewan, perlawanan triclabendazole pertama kali dijelaskan di Australia, kemudian di Irlandia dan Skotlandia dan lebih baru-baru ini di Belanda. Mengingat fakta ini, para ilmuwan telah mulai bekerja pada pengembangan obat baru. Baru-baru ini, sebuah fasciolicide baru berhasil diuji secara alami dan eksperimen sapi terinfeksi di Meksiko. Ini obat baru yang disebut ‘Senyawa Alpha’ dan kimia sangat mirip dengan triclabendazole.
Pencegahan
Pemutusan siklus hidup fasciolasis yaitu jangan menggembalakan ternak pada pagi hari pada rumput yang masih ada air diujung rumput ( embun ) dan pada manusia dengan memasak daging sampai benar – benar matang.

BAB IV
PENUTUPAN
Kesimpulan
Penyakit fasciolasis jarang menyebabkan kematian, namun efek ekonomi hewan yang terinfeksi sangat merugikan.
– Fasciola gigantica adalah parasit yang cukup potensial penyebab fascioliasis atau distomatosis.
Fasciola hepatica, juga dikenal sebagai kebetulan hati biasa atau hati busuk domba, adalah parasit cacing pipih dari kelas Trematoda , filum Platyhelminthes yang menginfeksi hati dari berbagai mamalia , termasuk manusia. hepatica didistribusikan di seluruh dunia dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar pada domba dan sapi.
– Cacing ini banyak menyerang hewan ruminansia yang biasanya memakan rumput yang tercemar metacercaria, tetapi dapat juga menyerang manusia
– Kejadian fasciolosis pada ternak ruminansia berkaitan dengan siklus hidup agen penyebab penyakit tersebut. Cacing Fasciola spp. dewasa dapat bertahan hidup di dalam hati ternak ruminansia antara 1-3 tahun. Telur cacing akan keluar dari tubuh ternak ruminansia bersama feses, dan pada lingkungan yang lembab, telur tersebut dapat bertahan antara 2-3 bulan.
Sejarah Fasciolosis telah menjadi patogen trematoda penting dari ternak di seluruh dunia dengan kerugian ekonomi yang parah pada sapi, domba, dan kambing. Baru-baru ini telah ditemukan memiliki pentingnya peningkatan sebagai infeksi manusia, umumnya di daerah pedesaan dan terkait dengan kemiskinan dan distribusi air yang buruk. Parasitologis diagnosis infeksi pada hewan, seperti dalam kasus ternak, dilakukan dengan menguji beberapa hewan, hasil di ekstrapolasi untuk seluruh kawanan Dalam kasus manusia, diagnosis cenderung secara individual, sering karena individu gejala. Namun, gejala fasciolosis manusia cenderung terjadi selama periode prepatent pada saat diagnosa parasitologis adalah mustahil. Selain itu, orang-orang menelan hati dipenuhi cenderung mengeluarkan telur Fasciola hepatica dalam tinja yang mengarah ke “palsu” fasciolosis. Terakhir, banyak infeksi kronis manusia pada individu yang mengeluarkan telur kebetulan tak menentu dimana telur sering tidak terlihat, sehingga menyebabkan hasil negatif palsu Jadi diagnosis kekebalan adalah sebuah sisipan penting untuk diagnosis akurat fasciolosis manusia dan sebagai alat epidemiologi untuk memastikan status infeksi pada populasi manusia.

Daftar paustaka
ANONYMOUS. 1990. Data ekonomi akibat penyakit. Direktorat Jendral Peternakan. Jakarta.
Aninymous.2007http://peternakan.litbang.deptan.go.id/publikasi/wartazoa/wazo142-.pdf.
Anonimus, 2010. Cacing hati. http://biologigonz.blogspot.com/2010/03/cacing-hati-fasciola-hepatica.html
Anonimus, 2010. Daur hidup fasciola. http://impact23.wordpress.com/2010/03/09/daur-hidup-fasciola-hepatica/
Anonimus, 2010. Kajian fasciolasis pada sapi potong. http://www.docstoc.com/docs/22678311/Kajian-fasciolosis-pada-sapi-potong-di-rumah-pemotongan-hewan
Anaonimus, 2010. Parasitology. http://www. parasitology.org
Arifin M., 2006. Pengaruh Iradiasi Terhadap Infektivitas Metaserkaria Fasciola gigantica pada Kambing. http://digilib.batan.go.id/eprosiding/File%Prosiding/ Kesehatan/ Risalah % 2000/2000/M-Arifin.pdf.
EDNEY, J.M. and A. MUCHLIS. 1962. Fascioliasis in Indonesian livestock. Comm. Vet. 2: 49-62.
ESTUNINGSIH, S.E., G. ADIWINATA, S. WIDJAJANTI dan D.PIEDRAFITA. 2004. Pengembangan teknik diagnosa Fasciolosis pada sapi dengan antibodi monoklonal dalam capture ELISA untuk deteksi antigen. Pros. Seminar Nasional Parasitologi dan ToksikologiVeteriner. 20-21 April, Bogor. hlm. 27-43.
HILLYER, G.V. 1999. Immunodiagnosis of human and animal fasciolosis. In: Fasciolosis. DALTON, J.P. (Ed.). CAB International. pp. 4435-4447.
SUHARDONO. 1997. Epidemiology and control of fasciolosis by Fasciola gigantica in ongole cattle in West Java.Ph.D. thesis. James Cook University of North Queensland, Australia.
WIEDOSARI, E. and D.B. COPEMAN. 1990. High resistance to experimental infection with Fasciola gigantica in Javanese thin-tailed sheep. Vet. Parasitol. 37: 101-111.

  1. aku mau mempelajari mengenai penyakit ini tolong kaka kirimin ini banyak ke saya ok

  2. Thankqiuw yha.. bro artikelnya bmanfaat bangetttttt… buat tugas makalah kuliahh ku… heheheeh

  3. Lumayan…ngasih sedikit pencerahan untuk skripsiku🙂

  4. kirim via email aja. purano@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: