pur07 vet

PLATYHELMINTHES

In Uncategorized on 10 Desember 2010 at 10:24 am

PHILUM PLATYHELMINTHES

Golongan cacing ini dapat digolongkan menjadi 2 Klas yang penting yaitu :
I. Klas Trematoda ( memiliki canalis alimentarius )
II. Klas Cestoda (tidak memiliki canalis alimentarius)

KLAS TREMATODA
Trematoda juga dikenal dengan cacing daun dengan ciri-ciri :
1. Tidak memiliki rongga badan dan semua organ berada didalam jaringan parenkim.
2. Tubuh biasanya pipih dorso-ventral, biasanya tidak bersegmen, kebanyakan bentuk seperti daun , ada juga bentuk panjang langsing (Schistosoma sp.) dan berbentuk conus (Paramphistoma sp.).
3. Mempunyai lekukan yang ditengahnya ada lubang yang disebut alat penghisap( batil isap/sucker) berjumlah dua buah, yang satu mengelilingi mulut dikenal dengan istilah ”Oral Sucker ” dan yang lain berada 1/3 anterior tubuh dibagian ventral atau pada ujung posterior disebut ” ventral Sucker” (Asetabulum).
4. Kutikula atau tegumen cacing ada yang licin dan ada yang berduri, berfungsi sebagai pembungkus badan juga secara faal bertanggung jawab dalam melaksanakan makanan.

STRUKTUR ANATOMI

Sistem digesti : dinding luar atau tegumen cacing daun disusun oleh kutikula halus atau berduri.
Sistem pencernaan : masih sangat sederhana, mulai dari mulut pada bagian anterior yang dikelilingi oral sucker makanan masuk, melanjut keposterior menuju parings yang berotot kemudian esofagus dan akhirnya menuju usus yang terbagi menjadi 2 sekum bercabang-cabang dan akhirnya buntu. Kebanyakan trematoda tidak mempunyai anus, sehingga sisa bahan makanan harus diregurgitasi.
Sistem syaraf : sangat sederhana, ditemukan cincin serabut syaraf dan ganglia mengelilingi esofagus.
Sistem sirkulasi : tidak ada
Sistem ekskresi : tersusun oleh sebuah kantong kemih posterior.
Sistem reproduksi, sangat komplek sebagian besar trematoda adalah Hermaphrodit (satu individu memiliki organ jantan dan betina) kecuali Schistosomatidae, tetapi pada umumnya terjadi pembuahan silang dan pembuahan sendiri kurang umum.
Sistem reproduksi jantan terdiri dari 2 testis berbentuk lobus atau bercabang-cabang, selanjutnya dari masing-masing testis dilanjutkan dengan sebuah vas eferens, vas eferens kemudian bergabung membentuk vas deferens. Pembuluh ini kadang –kadang melebar membentuk vesika seminalis yang dikelilingi oleh glandula prostata dan terakhir cirrus.
Sistem reproduksi betina secara berturutan dimulai dari ovarium yang tunggal berlobi-lobi atau bercabang-cabang, oviduks, reseptabulum seminalis, saluran vitelina yang menampung kelenjar viteliria, terusan laurel, kemudian menuju ootipe, uterus yang berkelok-kelok, metratem dan akhirnya keluar dari lubang kelami (Porus genitalis).

SIKLUS HIDUP
Telur cacing akan keluar bersama tinja penderita saat defikasi. Pada kondisi menunjang (kelembaban suhu yang sesuai) , telur akan berkembang dan menetas mengeluarkan larva mirasidium. Mirasidium berbentuk segitiga , dengan bagian depan melebar dan biasanya ditutupi oleh silia , juga biasanya mempunyai duri untuk membuat lubang masuk kedalam tubuh hospes antara ( biasanya adalah siput). Mirasidium biasanya dilengkapi dengan sistem ekskresi dan sistem syaraf dan mempunyai usus berbentuk kantung, serta bintik mata.
Pada waktu mirasidium menembus kulit hospes antara silianya lepas dan larva menjadi sporokista, yaitu masa sel yang tanpa diferensiasi.
Didalam sporokista terbentuk redia dan didalam tubuh redia terbentuk cercaria . Cercaria adalah bentuk infektifdari larva dan dapat langsung menginfeksi hospes definitif melalui makanan , minuman atau aktif menembus kulit, namun cercaria dapat mengkista diluar tubuh terutama pada tanaman air/rerumputan dan bentuk kista ini disebut metacercaria yang bersifat infeksius.

GENUS : FASCIOLA SP.

Cacing Fasciola (cacing hati ) ini terdapat dua spesies yang penting tersebar diseluruh dunia adalah :
1. Fasciola hepatica ( wilayah iklim dingin sampai sedang)
2. Fasciola gigantika ( beriklim tropis )
Cacing ini hidup sebagai parasit didalam pembuluh empedu domba, kambing, sapi dan ruminansia lain. Juga babi, kelinci, kuda dan manusia dapat terserang.

Fasciola hepatika
Morfologi, cacing dewasa berwarna coklat abu-abu dengan bentuk seperti daun, pipih, melebar dan lebih melebar keanterior dan berakhir dengan tonjolan berbentuk conus. Ukuran tubuh cacing dewasa panjangnya 30 mm dan lebarnya 13 mm. Mempunyai batil isap mulut (oral sucker ) dan batil isap perut (ventral sucker) yang besarnya hampir sama. Cacing hati adalah hermaprodit, dimana porus genitalisnya (lubang kelamin) terletak tepat dibelakang batil isap perut. Alat kelamin jantan (testis) bentuknya bercabang-cabang dan berlobus, sedangkan lat kelamin betina (vitellaria) memenuhi sisi lateral tubuh. Cacing hati memiliki sebuah pharing dan esofagus yang pendek , sedangkan caecumnya bercabang-cabang terutama disebelah lateral.
Telur cacing bentuknya oval, berdinding sangat halus dan tipis, berwarna kuning dan bersifat sangat permiabel. Telur yang baru keluar bersama tinja didalamnya ada granula halus berukuran 130 – 150 u X 63 – 90 mikron. Pada salah satu ujung telur terdapat operculum (merupakan daun pintu tempat keluarnya larva mirasidium dari dalam telur ).

SIKLUS HIDUP
Didalam tubuh ternak yang terinfeksi cacing hati dewasa berpredeleksi didalam pembuluh empedu hati. Selain hidup dari cairan empedu , cacing juga akan merusak sel-sel epitel dinding empedu untuk menghisap darah., sedangkan cacing muda bermigrasi pada parenkim hati dan dapat merusak dan memakan parenkim hati kemudian bermigrasi ke pembuluh empedu.
Catatan : cairan empedu bersuasana alkalis dan mengandung garam empedu,pigmen empedu, kholesterol, lechitin dll .

Cacing hati bertelur didalam kantong empedu mengikuti aliran empedu didalam ductus choleductus lumen duodenum keluar saat defikasi.
Pada kondisi lingkungan yang mendukung (air tergenang, suhu (26oC ), PH) telur akan menetas (17 hari ) dan terbebaslah larva mirasidium. Mirasidium mutlak harus berada dalam air dan berenang mencari hospes intermidier ( HI ) serasi ialah golongan siput Lymnaea tumentosa (di Australia ), L. truncatula (Eropa). Didalam tubuh siput tersebut mirasidium berubah menjadi sporokista yang memperbanyak diri dengan pembelahan sel secara transversal. Di dalam tubuh sporokista terbentuk banyak redia, pada masing-masing redia induk, terbentuk banyak redia anak ( cercaria ) yang berekor. Kemudian cercaria keluar dari tubuh siput dan berenang didalam air, dalam waktu 20-21 hari hari setelah memasuki tubuh siput.
Pada kondisi menunjang cercaria berenang di air mencari tumbuhan air /rerumputan untuk segera melekat dan ekor dilepaskan dan tubuhnya membentuk zat pelindung dari zat viskus metacercaria . Infeksi pada host terjadi bila memakan rumput yang ditempeli metacercaria . di dalam duodenum kista pecah dan keluarlah cacing muda. Dalam waktu 24 jam cacing muda sampai dalam ruang peritonium sesudah menembus dinding usus. Sekitar 4-8 hari sesudah infeksi, sebagaian besar cacing telah menembus kapsul hati dan migrasi dalam parenkim hati. Migrasi dalam hati memerlukan waktu 5-6 minggu dan minggu ke-7 telah sampai dalam saluran empedu dan delapan minggu setelah infeksi cacing telah bertelur.

Fasciola gigantica
Morfologi : tubuhnya pada umumnya lebih besar dibandingkan F. hepatika dengan panjang 25 – 75 mm dengan lebar 12 mm. Bentuk yang lebih spesifik lebih langsing dan bahu yang lebih sempit. Ventral sucker lebih besar dibanding oral sucker. F. gigantica terlihat lebih transparan jika dibandingkan dengan F. hepatica.

Predeleksi F. gigantica pada saluran empedu dari ruminansia (terutama sapi), kambing, domba didaerah beriklim tropis.

Secara skematis F. gigantica dan F. hepatica dapat dibedakan :

Morfologi
F GIGANTICA
F. HEPATICA

– Tubuh
– Bahunya
– Penampakan
– oral dan ventral sucker
– ukuran telur
– warna tubuh
Lebih langsing
Menyempit
Lebih transparan
Hamper sama besar
156-197 X 90-104
coklat abu-abu

Lebih besar
Melebar
Agak tebal
Ventral sucker lebih besar
130-150 X 63 –90
coklat abu-abu

Siklus hidup F.gigantica sama dengan F. hipatica , namun hospes intermidiernya dari golongan siput L. rubiginosa ( di Indonesia disebut L. javanica).
Catatan : di Indonesia tidak ditemukan siput yang cocok sebagai hospes intermidier F. hepatica , maka di Indonesia cacing ini tidak ditemukan, kecuali sapi impor. L. rubiginosa biasanya hidup dalam air jernih.

FAMILIA : PARAMPHISTOMATIDAE
Trematoda jenis ini biasanya bertubuh tebal. Ventral sucker terletak pada ujung posterior tubuh. Tidak memiliki pharinx, tetapi memiliki esofagus, sedangkan intestinal sederhana. Cutikula tanpa spina, porus genitalis terletak ventral. Testis berlobi terletak anterior dan ovarium yang kecil. Glandula vitellaria disebelah lateral tubuh.

Genus : Paramphistomum
Spesies yang penting : – P. cervi, P. microbothrium, P. ichikawae.
Predeleksi : di dalam rumen dan retikulum sapi, domba, kambing, kerbau, kijang dan ruminansia lain, sedangkan cacing muda berpredeleksi didalam usus halus dan baru akan bermigrasi kedalam rumen dan retikulum setelah menjadi dewasa.
Morfologi : bentuk cacing bulat seperti kerucut, pada bagian ventralnya agak cekung, bagian dorsalnya cembung, agak tebal dan berwarna merah muda. Tubuh cacing dewasa berukuran panjang 5-13 mm dan lebarnya 2-3 mm. Ditemukan adanya batil isap mulut ( oral sucker) berukuran kecil dan ventrak sucker berkembang sempurna terletak pada ujung posterior. Tidak memiliki pharing, tetapi memiliki oesopagus sedangkan saluran pencernaannya sangat sederhana. Cacing ini bersifat hermaphrodit, dimana porus genitalisnya terletak pada bagian akhir 1/3 anterior tubuhnya. Alat kelamin betina terdiri dari ovarium kecil yang letaknya dibelakang testis. Alat kelamin jantan mempunyai testis besar, agak berlobi dan letaknya disebelah depan dan belakang disebelah anterior ovarium. Seekor cacing betina dapat bertelur setiap hari sebanyak 75 butir per hari. Telur cacing berdinding tipis, memiliki operculum, ukuran panjangnya 114 – 176 X 73 – 100 mikron.

SIKLUS HIDUP
Telur cacing keluar saat defikasi yang telah mengalami perkembangan awal dan pada kondisi yang menunjang (air tergenang dan suhu 270 C) setelah lebih kurang 12 hari melalui operculum akan keluar larva yang disebut mirasidium. Mirasidium selanjutnya akan berenang di air dan secara aktif akan mencari hospes intermidier berupa siput dari genus ( Planorbis, Bulinus, Fossaria sp., Gliptanisus dan Fysmanisus ) setelah masuk dalam tubuh siput mirasidium akan berubah menjadi sporokista. Dalam waktu 11 hari sporokista akan berkembang dan didalamnya mengandung maksimal 8-9 redia. Pada hari ke- 21 sporokista akan pecah dan menghasilkan redia dengan ukuran panjang 0,5 – 1 mm. Di dalam tubuh redia ditemukan 15-30 cercaria. Serkaria akan keluar dari dalam tubuh siput terutama pada saat kena sinar matahari. Serkaria yang bebas memiliki ekor sederhana dan sepasang titik mata, berenang dalam air beberapa jam, kemudian akhirnya akan mengkista disebut metaserkaria didalam tumbuhan air yang dapat tahan pengaruh luar sampai 3 bulan. Infeksi terjadi karena tertelannya rumput yang mengandung metaserkaria, setelah sampai didalam usus kista akan pecah dan terbebaslah cacing muda. Cacing muda akan menembus masuk kedalam mukosa usus halus, kemudian setelah 6-8 minggu cacing muda akan bermigrasi keatas menuju rumen dan retikulum dan akhirnya berkembang menjadi cacing dewasa.

FAMILIA SCHISTOSOMATIDAE
Trematoda berbentuk memanjang, unisexsual, dan dijumpai sebagai parasit dalam pembuluh darah penderita. Tidak memiliki pharinx. Porus genitalis terletak dibelakang ventral sucker. Testis terdiri 4 lobi, ovarium memanjang. Telur memiliki kulit yang tipis dan tidak memiliki operculum.

GENUS : SCHISTOSOMA SP.
SPESIES : S. bovis, S. javanicum, S. hematobium
Predeleksi : di dalam vena porta dan vena mesenterika dari kambing, sapi, domba, anjing dan manusia.
MORPOLOGI : cacing Schistosoma merupakan trematoda berbentuk panjang, unisexual. Cacing jantan pipih seperti daun, sedangkan cacing betina bentuknya gilig dan ukurannya lebih panjang. Cacing betina pada umumnya melekat pada cacing jantan, terutama pada saat kopulasi disebabkan karena pada bagian ventral cacing jantan terdapat suatu celah yang berbentuk silindris dan mengikuti sisi lateral tubuh yang dinamakan canalis gynaecophorus .
Sucker (batil isap) tidak jelas atau menutup dan tidak memiliki sucker. Testis terbentuk 4 lobi atau lebih lobi yang menempati bagian anterior atau posterior. Ovarium memanjang dan kompak. Glandula vitelaria terletak dibelakang ovarium.
Ukuran tubuh cacing schistosoma berbeda-beda tergantung spesiesnya. S. javanicum jantan panjang 9,5 –20 mm dan lebarnya 0,55 – 0,99 mm. Sedangkan cacing betina 12-26 mm. Telur cacing ini memiliki selaput yang tipis dan tidak memiliki operculum. Pada dinding memiliki spina (duri) yang terletak disebelah lateral atau terminal. Ukuran telur bervariasi tergantung spesies dengan kisaran 70 – 100 X 50-80 mikron.

SIKLUS HIDUP
Cacing betina dewasa yang telah siap untuk bertelur akan segera memasuki pembuluh darah kecil sampai jauh kedalam atau mukosa intestinum untuk meletakkan telurnya . beberapa telur dapat terbawa aliran darah dan kemudian dapat dijumpai dalam hati dan organ-organ lainnya.
Telur cacing berjumlah 300 – 3500 butir per hari akan ada yang terbebas di dalam lumen usus dan terbawa keluar bersama tinja saat defikasi.
Setelah telur keluar bersama tinja saat defikasi di alam luar pada kondisi yang menunjang ( cahaya, suhu 25-30oC, PH 5-8 ) telur akan menetas dan terbebaslah larva mirasidium larva mirasidium yang terbebas akan berenang selama 16-24 jam untuk menginfeksi HI yaitu siput jenis Bulinus sp., Oncomelania sp.. Seandainya tidak menemukan inang antara yang serasi maka mirasidium akan mati. Mirasidium menembus tubuh siput dan melepaskan silianya selanjutnya mengembara kearah kelenjar pencernaan dan berkembang menjadi sporokista generasi I dan berkembang membentuk sporokista generasi ke II, kemudia menghasilkan cercaria dengan ekor bercabang ( furcocercous) .
Infeksi terjadi dengan menembus kulit sapi (hospes) pada waktu sapi kontak dengan air. Proses penembusan kulit itu dibantu oleh ludah yang mengandung enzem proteolitik yang dikeluarkan oleh kelenjar ludah daerah kepala. Cacing muda (Schistosumola) tersebut berkumpul dalam saluran darah vorta tempat predeleksinya, mungkin mengikuti aliran darah.

FAMILIA : ECHINOSTOMATIDAE
Cacing daun berbentuk agak memanjang dengan ventral sucker yang besar dan kuat terletak tidak jauh dari oral sucker. Oral sucker dipersenjatai oleh spinae disebelah dorsal dan lateral.

GENUS : ECHINOSTOMA
Spesies : E. revolutum
Predeleksi : didalam rektum dan caecum bangsa bebek, bangsa burung air dan unggas.
Morfologi : cacing daun berbentuk agak memanjang dengan ventral sucker yang besar dan kuat terletak tidak jauh dari oral sucker. Oral sucker dipersenjatai oleh spina disebelah dorsal dan lateral. Panjang tubuh 10-22 mm, lebar 2,25 mm. Oral sucker dipersenjatai oleh 37 spina. Testis memanjang atau oval terletak sedikit posterior dari tengah-tengah tubuh dengan ovarium terletak didepannya. Telur berukuran 90 – 126 X 59 – 71 mikron.

SIKLUS HIDUP
Siklus hidup pada perinsipnya sama dengan Fasciola sp., tetapi HI nya lain dan cercaria yang keluar akan memasuki HI lain ialah bangsa siput atau amphibi atau ikan dan mengkista disana. Hospes definitif terinfeksi dengan memakan HI kedua yang mengandung kista infeksius tersebut. Sebagai HI pertama adalah siput jenis Lymnaea, Planorbis dan Physa. Sedangkan HI kedua ialah Fossaria, vivipora dan Sphaerium

LIFE CYCLES OF DIGENETIC TREMATODES

EGG

MIRACIDIUM

H I

(MOLUSCA)

1. Schistosoma sp. 2. Fasciola sp. 3. Paramphistomum sp. 4. Echinostoma sp.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: