pur07 vet

orf

In Profesi on 27 November 2011 at 10:11 am

Kambing dan domba merupakan ternak ruminansia kecil yang banyak dipelihara petani ternak di pedesaan dengan berbagai tujuan, antara lain sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat dijual untuk keperluan hidupnya. Namun demikian, dalam pemeliharaan ternak kambing memerlukan perhatian terhadap kesehatannya. Salah satu penyakit yang biasanya timbul dan perlu diwaspadai adalah penyakit Orf.
Orf adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan bersifat zoonosis. Virus ini juga dikenal dengan nama contagious pustular dermatitis, infectious labial dermatitis , ecthyma contagiosum, thistle disease dan scabby mouth atau sore mouth (Winter dkk., 1999). Penyakit Orf tersebar luas hampir di seluruh dunia (kosmopolitan) dimana ternak kambing atau domba diternakkan, termasuk di Indonesia. Hewan yang sensitif terhadap penyakit ini pun cukup beragam, mulai dari kambing, domba, unta, llama, sampai kijang (Gitao, 1994; Mattson, 1994; Gameel dkk., 1995). Manusia dan anjing juga sangat peka terhadap Orf (Sewell dan Brocklesby, 1990). Namun demikian, tidak diperoleh bukti bahwa jenis hewan lain selain yang disebutkan di atas dapat terserang penyakit Orf (Buttner dkk., 1995).
Etiologi
Orf disebabkan oleh virus parapox dari family poxviridae dan termasuk dalam genus parapox virus (Fauquet dan Mayo, 1991; Fenner dkk., 1998). Virus Orf berukuran relatif besar sekitar 300-450 nm x 170-260 nm dan struktur luarnya seperti rajutan benang wol (Kluge dkk., 1972). Merupakan virus tipe DNA yang berbentuk ovoid (Mercer dkk., 1997). Mempunyai ciri khas bergaris-garis seperti permukaan buah nenas apabila dilakukan pengamatan dibawah mikroskop elektron dengan pewarnaan negatif menggunakan reagen phospotungtic acid. Virus ini amat tahan terhadap pengaruh suhu lingkungan sehingga tetap infektif dalam waktu relatif lama di luar tubuh hewan dan juga virus ini juga sangat tahan terhadap kekeringan serta dapat tinggal dalam suatu kandang pada suhu ruangan selama 15 tahun (Subronto, 2003).

Sejarah Kejadian
Penyakit Orf pertama kali dideteksi di Inggris dan Perancis antara tahun 1888-1923. Penyakit ini ditemukan di Amerika Serikat pada tahun 1910 hasil pelacakan oleh Mohler. Investigasi dalam skala besar mengenai penyakit Orf dilaporkan oleh Glover di Inggris pada tahun 1928. Nama penyakit Orf yang digunakan pada waktu itu adalah contagious pustular dermatitis. Menurut Adjid (1993), di Indonesia penyakit Orf pertama kali dilaporkan kejadiannya di Langsa, Aceh pada tahun 1914.
Patogenesis
Patogenesa dari penyakit Orf adalah dermatitis yang ditandai oleh terbentuknya papula, vesikula pada ambing, puting susu, pustula dan keropeng daerah bibir, lubang hidung, kelopak mata, tungkai, perianal dan selaput lendir rongga mulut (Ressang, 1984). Penyakit Orf bersifat cepat menular. Masa inkubasi dari penyakit ini berlangsung selama 2-3 hari.
Mekanisme patogenesis penyakit Orf secara lebih rinci dijelaskan oleh Merchant dan Barner (1973). Lesi mula-mula terbentuk sebagai papula ataupun macula akibat dari adanya proliferasi sel-sel epitel dari lapisan malpighi pada epidermis. Sel-sel dalam nodula tersebut kemudian mengalami degenerasi hidrofobik, lalu membengkak dan akhirnya pecah berbentuk vesikula. Akibat adanya peradangan ini leukosit menginvasi vesikula dan terbentuklah pustula yang kemudian mengalami ruptur sehingga terjadi ulcerasi yang akhirnya terbentuk keropeng tebal berwarna keabu-abuan kira-kira pada hari ke-10.

Mekanisme Penularan/Transmisi
Penularan penyakit Orf adalah melalui kontak langsung antara hewan peka dengan hewan sakit Orf atau dengan kontaminan di lingkungan. Infeksi virus tersebut dapat masuk melalui perlukaan-perlukaan di permukaan kulit akhibat dari lapangan pengembalaan yang terdapat banyak duri yang dapat membuat luka. Penularan penyakit ke induk dapat juga terjadi ketika anak yang terserang Orf menyusu pada induknya, sehingga infeksi terjadi pada puting susu (Abu Elzein dan Housawi, 1997).
Gejala
Gejala pertama dari penyakit Orf ditandai oleh adanya bintik-bintik merah pada kulit bibir, yang kemudian berubah menjadi lepuh-lepuh. Lepuh-lepuh membesar yang pada akhirnya terlihat bentukan-bentukan keropeng yang menonjol, bentukan keropeng ukurannya bervariasi sampai dengan 5 mm, dan menyembul dari permukaan kulit setinggi 2-4 mm. Lesi-lesi ini biasanya tersebar pada permukaan bibir/mulut, atau juga sekitar hidung, dagu, dan sekitar kelopak mata, atau tempat lainnya yang kurang berbulu. Lesi penyakit Orf bersifat lokal, artinya tidak sistemik atau menyebar ke seluruh tubuh. Bagian kulit yang menderita kalau tertekan terasa sakit, hal ini menyebabkan menurunnya nafsu makan. Kulit jadi menebal karena adanya granulasi jaringan. Lesi juga dapat ditemukan pada daerah pipi. Oedem yang terjadi juga menyebabkan regangan kulit, hingga kadang terbentuk luka iris (fisurae).
Kesembuhan pada penyakit yang tidak berat terjadi dalam waktu lebih kurang 3 minggu, ditandai dengan hilangnya keropeng dari daerah sekitar mulut.

Diagnosa
Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang ditemukan. Jumlah penderita yang biasanya lebih dari seekor dalam satu kelompok hewan sehingga memperkuat dugaan adanya Orf. Ukuran virus yang cukup besar dan bentuk virus yang spesifik, sehingga dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron juga memudahkan peneguhan diagnosa (Akoso, 1991). Pada domba dan kambing, lesi yang terlihat cukup spesifik, dapat didiagnosa secara klinik tanpa bantuan laboratorium.
Diferensial Diagnosa
Differensial diagnosa atau diagnosa banding didasarkan atas kesamaan ciri penyakit lain yang ditemukan. Namun, agen penyebab penyakit adalah berbeda. Diagnosa banding terhadap penyakit Orf pada kambing dan domba meliputi dermatitis karena jamur dan eczema facialis (Akoso, 1991) selain itu penyakit oleh virus cacar (sheeppox) serta tumor pada kulit serta bluetongue.
Pengobatan dan Pencegahan
Karena penyebabnya adalah virus, maka tidak ada obat yang efektif terhadap penyakit Orf. Pengobatan yang dilakukan secara simptomatis hanya untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri dan myasis oleh larva serta mempercepat kesembuhan, misalnya dengan penggunaan antibiotika berspektrum luas seperti oksitetrasiklin dan pemberian multivitamin (Adjid, 1993). Cara lain yang lebih sederhana adalah pengerokan keropeng sampai terkelupas dan sedikit berdarah selanjutnya setelah itu dioleskan methylen blue pada lesinya. Selain itu, dapat juga dengan menggunakan yodium tincture 3% setelah sebelumnya lesi Orf digosok dengan tampon sampai terkelupas lalu di desinfeksi dengan menggunakan alcohol 70% serta dilanjutkan dengan langkah yang terakhir adalah dilakukan penyuntikan antibiotik untuk mencegah super infeksi. Obat anti lalat juga dianjurkan penggunaannya untuk mencegah myasis oleh larva lalat (Abu Elzein dan Housawi, 1997).
Pencegahan yang paling tepat untuk kejadian penyakit Orf di daerah endemik dan daerah sporadik terhadap hewan-hewan yang rentan adalah vaksinasi serta menjaga sanitasi kandang dan lingkungan. Vaksinasi sebaiknya dilakukan pada umur sekitar 6-8 bulan. Yang perlu diingat, bahwa vaksin yang digunakan sekarang ini merupakan vaksin hidup (live vaksin) yang belum di atenuasi/dilemahkan sehingga mempunyai resiko penularan lebih lanjut dari penyakit ini, baik kepada hewan lain maupun kepada manusia. Secara tradisional, vaksin dapat dibuat dari keropeng kulit yang dibuat menjadi tepung yang halus, lalu dicampurkan/disuspensikan menjadi 1% dalam gliserin 50%.
Aplikasi vaksinasi yaitu dengan mengoleskan vaksin pada kulit paha bagian dalam, daerah leher ataupun telinga. Tujuan vaksinasi itu sendiri adalah diharapkan berhasil menimbulkan imunitas pada anak kambing ataupun domba yang divaksin. Selain dengan vaksinasi, pengawasan lalu lintas ternak juga harus diperketat, hanya hewan yang tidak memperlihatkan gejala klinis penyakit Orf yang boleh dikirim ke wilayah bebas penyakit (Dirjen Peternakan, 2007) dan juga pemeliharaan ternak harus dilakukan secara intensif.
Terapi
Terapi khusus terhadap orf tidak dikenal. Usahakan pemberian pakan hijau-hijaun yang halus dan muda. Salep antiseptica dan antimikrobial dapat diberikan. Juga salep yang memilki daya mengerutkan.
KESIMPULAN
1. Orf adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus parapox yang sangat menular, menyerang kambing, domba, llama, serta kijang dan dapat bersifat zoonosis.
2. Gejala klinis penyakit Orf yakni dermatitis yang ditandai terbentuknya papula, vesicula, pustula dan keropeng pada daerah moncong, bibir, lubang hidung, kelopak mata, ambing, tungkai, perianal, dan selaput lendir di rongga mulut.
3. Diagnosa laboratorium untuk penyakit Orf dapat dilakukan dengan pemeriksaan secara histopatologi dan uji serologi.
4. Kasus penyakit Orf di Indonesia sebagian besar menyerang ternak kambing
5. Penanggulangan penyakit Orf terutama melalui program vaksinasi dan pemeliharaan ternak secara intensif.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.2009.http://www.slashnburn.org/index.php?option=com_awiki&view=mediawiki&article=Sheeppox_and_goatpox?qsrc=3044

Anonymous.2009. http://www.knowledgescotland.org/briefings.php?id=194
Abu Elzein, E.M. and F.M. Housawi. 1997. Severe long-lasting contagious ecthyma infection in goat’s kid. Zentralbl veterinarmed [B] 44(9) : 561-564.
Adjid, R.M.A. 1993. Penyakit Orf pada ternak kambing dan domba serta cara pengendaliannya di Indonesia. Wartazoa. 3(1) :7-10.
Akoso, B.T. 1991. Manual untuk Paramedis Kesehatan Hewan. Cet. Ke-2. PT Tirta Wacana, Yogyakarta.
Dirjen Peternakan. 2007. Petunjuk teknis kesehatan hewan dan biosekuriti pada unit pelaksana teknis perbibitan versi pdf.
Erwin. 2008. Penyakit Orf. http://erwinklinik.multiply.com/journal/item/3.
Lestari, Sri Mundi. 2010. Orf pada kambing dan domba. Medik Veteriner di Direktorat Kesehatan Hewan. Manajemen dan teknologi edisi 1. Publikasi budidaya ternak ruminansia.
Ressang, A.A (1984). Patologi Khusus Veteriner. Edisi kedua. Team Leader IFAD Project: Bali Cattle Diasease Investigation Unit, Denpasar, Bali.
Subronto (2003). Ilmu Penyakit Ternak (mamalia) 1. Edisi kedua. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: